Minggu, 29 November 2015





 





Kelas: LD66
Nama Dosen: Hendra, S.S.,M.Pd
Kode Dosen: D3735
Hari: Rabu
Tanggal: 18- November- 2015
Waktu: 15.00- 16.00
Lama Kegiatan: 1 jam (60 menit)
Lokasi Lengkap: SMP Negeri 119. Jl. Harapan Jaya 9/5, Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat
PIC: Bapak Tonny
Jumlah siswa/ peserta : 35 orang
Hadir:
Ketua: Sandri Senjaya- 1801422001
Anggota:
1. Herbert Jeremy- 1801378190
2. Nadya Azma Prihasti- 1801413722
3. Juan Fitzgerald Orapau- 1801397334
4. Deni Irza- 1801431265
5. Refdinal Agus- 1801449413
6. Ronaldo Gultom- 1801454123
7. Muhammad Reza Aditya- 1801423401
Anggota yang tidak hadir: 1. Muhammad Reza Aditya- 1801423401
                                                                 2. Refdinal Agus- 1801449413




Isi Laporan

            Menyusul minggu lalu, kelompok kami kembali ke SMP Negeri 119 (sekolah sementara yang ditempati SMP Negeri 10 karena renovasi sekolah lama) untuk melanjutkan materi kampanye autisme kami. Adapun materi yang kami sampaikan di kelas  terkait autisme adalah apa saja penanganan yang tersedia untuk autistik di Indonesia, lalu bagaimana kemungkinan pendidikan bagi autistik, prognosa bagi individu autistik, kemungkinan untuk “sembuh”, dan bagaimana penggunaan istilah “penderita autisme" sebenarnya kurang tepat dalam mendefinisikan individu yang autis. Selain itu, kami juga memberikan informasi mengenai fakta-fakta seputar autisme. Fakta-fakta tersebut meliputi penjelasan bahwa autisme tidak menular dan penyebab autisme masih terus diselidiki. Di samping itu, masih tak ada tanda-tanda akan munculnya  terapi instan untuk menanggulangi autisme. Oleh sebab itu, individu autistik memerlukan penanganan terpadu: diagnosa akurat, pendidikan tepat, dan dukungan kuat.
            Setelah memaparkan fakta autisme, kami mengadakan permainan mitos atau fakta. Permainan itu kami adakan agar siswa-siswi mampu membedakan yang benar-benar fakta mengenai autisme dan mana yang hanya mitos. Melalui permainan ini, kami berharap siswa-siswi tidak lagi mempercayai mitos yang berhubungan dengan autisme, apa lagi mitos yang bersifat mengucilkan individu autistik.
Hari itu, kami mempersiapkan pengajaran dengan tahapan:
1. Mencari waktu luang yang sama di antara anggota-anggota kelompok
2. Menelepon sekolah untuk mengatur jadwal pengajaran materi
3. Mempersiapkan dan melatih penyampaian isi materi
4. Berkumpul di Universitas Bina Nusantara Kampus Anggrek
5. Mengonfirmasi jadwal yang telah ditetapkan dengan kembali menelepon sekolah
6. Sampai di sekolah, kami pergi ke ruang guru dan berkomunikasi dengan pak Tony  mengenai informasi kelas yang akan kami ajar
7. Sampai di kelas, kami memberikan form evaluasi kepada guru bersangkutan dan mulai mempersiapkan InFocus untuk materi pengajaran.
Materi yang disampaikan hari ini diharapkan menambah kesadaran masyarakat dengan informasi-informasi yang akurat mengenai autisme. Dengan informasi yang benar, tindakan diskriminasi terhadap individu autistik akan berkurang.
            Hari itu, kelompok kami kembali menggunakan metode pengajaran classroom. Adapun hal positif dari metode pembelajaran ini adalah penyampaian materi yang tersampaikan secara efektif karena semua siswa langsung mendengar dan menyimak. Selain itu, kreativitas dari metode classroom juga terbantu dengan sarana InFocus yang menyediakan berbagai bahan kampanye agar siswa-siswi terus tertarik untuk mendengarkan.
            Meskipun demikian, metode ini juga tidak terlepas dari kekurangannya. Terkadang sangat sulit untuk menenangkan siswa-siswi yang ribut. Hal tersebut biasanya terjadi setelah games diadakan. Akan tetapi hal ini bukan berarti permainan harus dihilangkan karena justru permainan itu juga bisa digunakan untuk mengembalikan fokus peserta.
            Kinerja yang dilakukan sudah sangat baik. Kali ini tak ada komentar apapun dari pihak sekolah.


Design Atribut Campaign




Penutup
Hasil Kegiatan:
Seperti minggu lalu, puji Tuhan banyak yang mendaftar menjadi duta autisme. Berikut siswa-siswi yang mendaftar:


Adapun total siswa-siswi yang mendaftar ada sebanyak 31 orang.

Dengan demikian, kesimpulan dari kegiatan kami hari ini adalah ternyata masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya paham akan autisme. Begitu pula dengan kami. Dengan menghafalkan bahan materi dan mensosialisasikannya, kami semakin mengerti apa itu autisme dan kami harap, semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa autisme bukanlah suatu aib ataupun seorang yang harus dikucilkan. Mereka juga bagian dari kita, dan dengan melakukan sosialisasi ini kita sudah turut berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran tentang autisme.
Hal yang perlu diperbaiki:
1. Pelafalan yang lebih jelas
2. Berusaha untuk lebih interaktif lagi

Jumlah peserta: 35 orang.

Minggu, 15 November 2015

Duta Peduli Autis di Sekolah SMP Negeri 10 Jakarta dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama Teach For Indonesia










Kelas: LD66
Nama Dosen: Hendra, S.S.,M.Pd
Kode Dosen: D3735
Hari: Rabu
Tanggal: 11- November- 2015
Waktu: 15.00- 16.00
Lama Kegiatan: 1 jam (60 menit)
Lokasi Lengkap: SMP Negeri 119. Jl. Harapan Jaya 9/5, Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat
PIC: Bapak Tonny
Jumlah siswa/ peserta : 34 orang
Hadir:
Ketua: Sandri Senjaya- 1801422001
Anggota:
1. Herbert Jeremy- 1801441442
2. Nadya Azma Prihasti- 1801413722
3. Juan Fitzgerald Orapau- 1801397334
4. Deni Irza- 1801431265
5. Refdinal Agus- 1801449413
6. Ronaldo Gultom- 1801454123
Anggota yang tidak hadir: 1. Muhammad Reza Aditya- 1801423401
                                         2. 5Refdinal Agus- 1801449413





Isi Laporan
Kelompok 5 mendapatkan pengajaran mengenai autisme, bahwa autisme itu bukanlah penyakit dan bisa dibilang, autisme bukanlah suatu penyakit yang menular, oleh karena itu, penderita autisme tidak boleh dijauhi. Autisme adalah suatu keadaan dalam diri seseorang dimana seseorang tersebut mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan. Gejala autisme adalah: jika kita memanggil anak tersebut maka anak  tersebut tidak memberikan reaksi, tidak adanya rasa tertarik dengan orang lain, tidak menggunakan telunjuk untuk menunjukkan rasa tertarik pada sesuatu, tidak meniru perilaku orang tua atau orang lain. tidak mau menatap mata orang yang sedang berbicara selama lebih dari 1 atau 2 detik. jika kita menunjuk pada sesuatu maka anak tersebut tidak melihat apa yang kita tunjuk, tidak pernah bermain "sandiwara" dengan boneka,dll. Namun, orang yang hanya bisa menilai itu autisme atau bukan adalah dokter/psikologi, bukan diri kita sendiri yang mengamati. Autustik sendiri harus kita jaga perasaannya, harus kita dukung dan kita bantu, bukan dijadikan sebagai bahan candaan dalam kehidupan sehari- hari

Kelompok 5 mempersiapkan pengajaran tentang Autism Is Not A Joke dengan tahapan:
1. Koordinasikan waktu antar anggota kelompok karena perbedaan jadwal kuliah
2. Mencari bahan ajaran melalui website tentang autisme
3. Membuat power point agar bisa mempersiapkan pengajaran ketika sudah di kelas.
4. Menari lokasi SMPN 10 Jakarta
5. Menyerahkan surat jalan dan menyesuaikan waktu dengan sekolah SMPN 10 Jakarta karena sekolah SMPN 10 Jakarta untuk sementara waktu harus berpindah ke SMPN 119 Jakarta karena sedang dalam masa perbaikkan. Sehingga jadwal mereka yang terbatas dan tidak bisa terlalu lama digunakan

Metode pengajaran yang digunakan adaah classroom. Hal postifnya adalah:
a. Bisa lebih berinterkasi dengan murid- murid SMPN 10 Jakarta
b. Bisa menggunakan fasilitas seperti proyektor dan papan tulis
c. Adanya keaktivan di kelas oleh beberapa anak
Namun, kekurangan dalam metode ini adalah:
a. Keadaan yang kurang kodusif karena jumlah murid yang cukup banyak sehingga sedikit sulit untuk menciptakan kondisi pengajaran yang kondusif
b.  Beberapa anak masih pasif dan takut ketika ditanyakan karena takut salah dan ditertawakan

Kinerja yang sudah dilakukan cukup baik namun ada keterlambatan dalam kehadiran pengajar di sekolah SMPN 10 Jakarta

Form Evaluasi




Atribut Kampanye


Penutup
1. Hasil Kegiatan:
Kelompok 5 mengadakan sesi quiz sederhana kepada murid- murid kelas VII F di SMPN 10 Jakarta. Ketika awal kami belum menjelaskan tentang autism, masih banyak murid- murid yang belum mengetahui. Tetapi, setelah kami menerangkan dan mengadakan quiz sederhana dengan menanyakan kembali tentang apa yang kami ajarkan, mayoritas dari mereka sudah bisa menjawab pertanyaan kami dengan sangat mudah
Peserta tertarik untuk menjadi duta autism. Berikut ini adalah bukti bahwa peserta mengantri untuk mendaftar menjadi duta autism
Total yang mendaftar di hari 1 adalah 18 orang

Kesimpulannya adalah, dengan kita bisa menyuarakan gerakan "autism is not a joke" dengan bersosialisasi ke sekolah- sekolah, kita bisa membantu autistik dalam segi moral. Kita bisa membantu mereka dengan tidak menggunakan kata autism sebagai bahan candaan. Dengan sosialisasi ini, kita juga bisa belajar untuk bisa menghargai satu sama lain, menjaga hubungan yang baik antar sesama manusia. Tidak hanya peserta yang di sosialisasikan tetapi juga pemberi materi yaitu anggota kelompok 5

Perbaikan yang akan dilakukan oleh kelompok kami adalah:
1. Kehadiran yang tepat waktu
2. Koordinasi yang lebih baik
3. Penyampaian materi yang lebih interaktif dan lebih berkesan

Jumlah peserta: 34 orang